Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Ekonomi

Tambah Nilai Jual Hasil Panen, SMK SPP Kanisius Ambarawa Inovasi Keripik Pisang Cokelat sebagai Bekal Kewirausahaan Siswa

24
×

Tambah Nilai Jual Hasil Panen, SMK SPP Kanisius Ambarawa Inovasi Keripik Pisang Cokelat sebagai Bekal Kewirausahaan Siswa

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

AMBARAWA – Hasil panen yang melimpah tidak selalu berujung keuntungan. Pisang yang tidak segera terjual justru berisiko membusuk dan terbuang. Persoalan inilah yang coba dijawab SMK Sekolah Pertanian Pembangunan (SPP) Kanisius Ambarawa dengan mengolah pisang menjadi keripik berlapis cokelat sekaligus menjadikannya laboratorium kewirausahaan bagi siswa.

Melalui produk tersebut, sekolah tidak hanya mengajarkan cara mengolah hasil pertanian, tetapi juga mengenalkan proses bisnis secara langsung. Siswa dilibatkan mulai dari mencari bahan baku, produksi, pengemasan hingga pemasaran. Mereka didorong memahami bahwa keterampilan bertani harus diikuti kemampuan menciptakan nilai tambah dan membaca peluang pasar.

Example 300x600

Kepala SMK SPP Kanisius Ambarawa, Tri Hartanto Setyohadi, ST, mengatakan inovasi pengolahan pisang berangkat dari persoalan sederhana, yakni daya simpan buah segar yang relatif pendek.

“Kalau pisang dijual langsung, daya tahannya tidak lama. Kalau tidak segera terjual, bisa rusak. Karena itu, kami mencari cara agar hasil panen pisang bisa bertahan lebih lama dan memiliki nilai tambah. Akhirnya dibuat menjadi keripik pisang cokelat,” jelas Tri Hartanto.

Menurutnya, keripik pisang sebenarnya bukan produk baru di pasaran. Karena itu, sekolah mencoba menghadirkan variasi dengan lapisan cokelat agar memiliki daya tarik dan nilai jual berbeda.

Pengembangan produk tersebut ditangani Widyarini, S.P., dari Bidang Bisnis Center dan Pascapanen SMK SPP Kanisius Ambarawa. Ia mengungkapkan, gagasan usaha itu berawal dari keinginan mencari penghasilan tambahan sekaligus membekali siswa dengan keterampilan yang dapat dimanfaatkan setelah lulus.

Baca Juga :  Kepala UPTD Puskesmas Darul Ihsan Apresiasi Forikan -DKP Bantuan Ikan Segar Dalam Rangka Penanganan Stunting dan Pengendalian Inflasi

“Saya masuk SPP tahun 2006. Waktu itu saya berpikir bagaimana mencari uang untuk mencukupi kebutuhan hidup. Selain itu, saya juga ingin mengajari anak-anak supaya memiliki keterampilan. Jadi, ketika lulus dan sulit mendapatkan pekerjaan, mereka sudah punya bekal untuk menghasilkan uang sendiri,” ungkap Widyarini.

Pisang dipilih karena bahan bakunya relatif mudah diperoleh dan harganya terjangkau. Jenis yang dapat diolah antara lain pisang raja, kepok kuning, dan pisang nangka. Sebelum memantapkan produk keripik pisang cokelat, Widyarini juga pernah mencoba mengembangkan sejumlah produk olahan lainnya.

Namun, tantangan usaha tidak berhenti pada kemampuan menghasilkan produk. Siswa juga harus memahami bagaimana bahan baku diperoleh, proses produksi dilakukan, produk dikemas, hingga barang sampai kepada pembeli.

“Anak-anak ikut terlibat dari awal sampai akhir. Mulai membeli bahan di pasar, memasak, menggoreng, mengemas, sampai menjual. Harapannya, mereka benar-benar memahami proses usaha, bukan hanya bisa membuat produknya,” katanya.

Dari sisi pemasaran, keripik pisang cokelat tersebut masih banyak ditawarkan di lingkungan sekolah, kepada karyawan dan teknisi, serta melalui jaringan pertemanan dan grup komunikasi. Produk itu juga pernah dipasarkan dalam sejumlah kegiatan hingga Yogyakarta dan Jawa Timur.

Namun, Widyarini mengakui pemasaran belum berjalan secara kontinu. Produksi masih menyesuaikan agenda sekolah, termasuk kegiatan pembelajaran dan ujian. Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah apabila produk tersebut ingin dikembangkan menjadi usaha yang berkelanjutan.

Baca Juga :  Dinas Ketapang Gelar GPM Guna Kesetabilan Nilai Bahan Pokok kepada Warga Kota Bekasi

“Kami sebenarnya ingin mengembangkan usaha ini seperti industri yang benar-benar berjalan. Bahkan, ada keinginan melibatkan alumni untuk membantu produksi dan pemasaran. Kalau usaha berkembang, mereka bisa bekerja dan mendapatkan penghasilan,” tuturnya.

Dari segi ketahanan, keripik pisang cokelat diklaim dapat bertahan hingga sekitar tiga bulan dengan tetap menjaga kualitas rasa. Sementara keripik pisang tanpa lapisan cokelat umumnya bertahan sekitar satu bulan. Widyarini menjelaskan, proses pengolahannya tidak menggunakan bahan pengawet sintetis, tetapi memanfaatkan gula sebagai salah satu bahan.

Produk tersebut juga telah memiliki izin, sedangkan pengurusan sertifikat halal masih perlu ditindaklanjuti. Ke depan, tantangan SMK SPP Kanisius bukan sekadar mempertahankan keterampilan membuat keripik, melainkan membawa produk itu keluar dari lingkungan praktik sekolah menuju usaha yang memiliki produksi rutin dan pasar lebih luas.

Jika dikembangkan secara serius, keripik pisang cokelat bisa menjadi lebih dari sekadar produk olahan hasil pertanian. Usaha tersebut berpotensi menjadi ruang belajar bisnis, sumber penghasilan, bahkan membuka kesempatan kerja bagi alumni.

Dengan demikian, siswa tidak hanya dipersiapkan menjadi tenaga terampil di bidang pertanian, tetapi juga memiliki keberanian mengolah peluang, menghasilkan produk bernilai ekonomi, dan membangun usaha secara mandiri.(msa)

Example 300250
Example 120x600
error: Content is protected !!