Menurut Susan namanya juga anak-anak, mungkin ada yang masuk dan memberikan omongan tidak baik, sehingga menjadi aneh dan berubah. “Padahal dulunya anak-anak ini diasuh oleh bu Rini selama 8 bulan pasca ibu dan ayahnya meninggal”.
Susan melanjutkan, waktu itu kondisinya terbalik, hubungan kliennya Rini dengan anak-anak baik, tapi anak-anak tidak mau dekat dengan keluarga ayahnya.
“Namun sejak komunikasi dan silaturahmi bu Rini dengan anak-anak diputus dan bu Rini melayangkan gugatan pembatalan perwalian. Makin ke sini, sudah lain sikapnya, seperti membenci, seakan-akan bu Rini ini tidak baik,” ujarnya
Padahal kata Susan beliau sedang memperjuangkan hak-hak anak-anak itu. Hingga akhirnya berhasil dapat perwalian dan mendapatkan ganti rugi atas meninggalnya kedua orang tua anak-anak itu.
“Sebenarnya ibu Rini yang telah memperjuangkan hak anak-anak ini. Jadi bagian dan hak anak-anak ini tidak ada satu orangpun yang bisa mengambilnya dan itu sudah diputuskan oleh pengadilan Amerika,” jelasnya.
Lebih lanjut Susan sangat meyayangkan dalam pertemuan di rumah itu, pada saat eksekusi tersebut kliennya tidak diberikan waktu dan kesempatan untuk menjelaskan hasil perjuangannya dan bahwa ada sejumlah uang di Amerika.
“Maksudnya ibu Rini mau menyampaikan dan menjelaskan bahwa ini lho ada surat dan dokumen yang dapat kalian pegang, untuk klaim ketika umur kalian 21 tahun. Tapi dengan kejadian seperti ini pasti nantinya mereka yang akan mencari ibu Rini untuk mencairkan uang ganti rugi kematian ibunya selaku adik kandung bu Rini itu,” jelasnya.

















