AMBARAWA – Sejarah bukan sekadar deretan tahun, nama tokoh, dan peristiwa yang harus dihafalkan di ruang kelas. Ketika generasi muda mulai kehilangan hubungan dengan akar sejarah dan leluhurnya, identitas bangsa ikut dipertaruhkan. Kesadaran inilah yang mendorong SMK SPP Kanisius Ambarawa membawa pembelajaran sejarah keluar dari sekolah, langsung menyusuri jejak peninggalan masa lampau di lingkungan sekitar.
Kamis (5/11/2026), guru sejarah SMK SPP Kanisius Ambarawa, Noor Hayati, S.Pd., mengajak para siswa berjalan kaki menuju Situs Candi Ngentak di Ngentak, Ngampin, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang. Kegiatan ini bukan sekadar kunjungan lapangan, melainkan upaya mendekatkan siswa dengan bukti sejarah lokal yang selama ini berada tidak jauh dari kehidupan mereka.
Noor Hayati mengatakan, pembelajaran sejarah tidak seharusnya hanya berlangsung di dalam kelas melalui aktivitas menghafalkan tahun dan peristiwa. Siswa perlu diajak melihat langsung peninggalan sejarah agar memahami bahwa lingkungan tempat mereka tinggal menyimpan nilai sejarah dan budaya yang harus dijaga.
“Melalui pembelajaran sejarah lokal, anak-anak tidak hanya mengenal peristiwa masa lalu dari buku, tetapi juga belajar melihat, memahami, dan menghargai peninggalan sejarah yang ada di sekitar mereka,” jelasnya.
Menurutnya, pembelajaran sejarah harus mampu membangun kesadaran sejarah, karakter, serta kecintaan terhadap tanah air. Siswa juga perlu didorong untuk berpikir kritis, memiliki rasa ingin tahu, dan memahami pentingnya menjaga warisan budaya daerah.
Dalam materi pembelajarannya, Noor Hayati mengangkat sebuah pernyataan yang dikenal melalui buku *Secret of History* karya Juri Lina. Pernyataan tersebut menyebutkan tiga cara melemahkan suatu bangsa, yakni mengaburkan sejarahnya, menghancurkan bukti-bukti sejarah, serta memutus hubungan generasi penerus dengan leluhurnya melalui anggapan bahwa nenek moyang mereka bodoh dan primitif.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa sejarah memiliki kaitan erat dengan identitas dan jati diri bangsa. Namun, kesadaran sejarah tidak cukup dibangun melalui slogan. Generasi muda harus diperkenalkan pada peninggalan nyata, didorong untuk meneliti, dan dibiasakan menghargai warisan budaya di sekitarnya.
Pembelajaran ini juga berpijak pada tujuan pendidikan nasional sebagaimana termuat dalam Pembukaan UUD 1945 alinea IV, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan tidak hanya bertugas meningkatkan kemampuan akademis, tetapi juga menumbuhkan patriotisme, cinta tanah air, semangat kebangsaan, kesetiakawanan sosial, serta penghargaan terhadap jasa para pahlawan.
Noor Hayati menerapkan pendekatan pendidikan berdasarkan sistem among Ki Hadjar Dewantara melalui semboyan *Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani*. Guru harus menjadi teladan di depan, membangun semangat ketika berada di tengah siswa, serta memberikan dorongan dan dukungan dari belakang agar peserta didik mampu mengembangkan potensi, bakat, dan kepribadiannya.
Menurutnya, lingkungan sekitar dapat menjadi ruang belajar yang sesungguhnya. Prinsip Ki Hadjar Dewantara, “Setiap orang adalah guru dan setiap tempat adalah sekolah”, menjadi landasan untuk mengembangkan pembelajaran yang lebih dekat dengan kehidupan siswa.
Ambarawa sendiri menyimpan jejak sejarah dari berbagai periode, mulai masa kerajaan Hindu-Buddha, perkembangan Islam, zaman kolonial, perjuangan kemerdekaan hingga masa sekarang. Salah satu peninggalan yang menjadi perhatian dalam pembelajaran tersebut adalah struktur batuan yang dikenal sebagai Situs Candi Ngentak.
Situs yang berada di halaman rumah warga, milik keluarga Ibu Agnes yang turut merawat keberadaannya, terletak di Ngentak, Ngampin. Struktur peninggalan tersebut terdiri atas batu andesit dan terakota atau bata berbahan tanah liat. Keberadaan dua jenis material ini menjadi bahan pengamatan siswa untuk mengenali karakter peninggalan arkeologis di lingkungan mereka.
Siswa juga diperkenalkan dengan Sendang Gayam, sebuah sumber mata air yang berada tidak jauh dari situs tersebut, di bawah pohon gayam. Keberadaan situs dan sumber mata air ini memperlihatkan bahwa peninggalan sejarah tidak selalu berdiri sendiri, tetapi dapat berkaitan dengan kondisi lingkungan dan kehidupan masyarakat pada masa lampau.
Meski demikian, penentuan periode, fungsi, dan asal-usul situs memerlukan penelitian arkeologis lebih lanjut. Pengamatan lapangan menjadi langkah awal untuk menumbuhkan rasa ingin tahu, bukan dasar untuk menetapkan kesimpulan sejarah tanpa bukti ilmiah.
Menariknya, perjalanan dari SMK SPP Kanisius Ambarawa menuju Situs Candi Ngentak ditempuh dengan berjalan kaki sejauh kurang lebih tiga kilometer pulang-pergi. Padahal, sebagian siswa membawa sepeda motor dan tersedia pula angkutan umum.
Noor Hayati menjelaskan, dirinya sengaja memilih berjalan kaki agar kegiatan pembelajaran sekaligus menjadi sarana mengajak siswa berolahraga, mengenali lingkungan alam, dan membangun kepedulian terhadap wilayah tempat mereka tinggal.
“Memang sengaja anak-anak saya ajak berjalan kaki. Tujuannya bukan hanya mengunjungi situs sejarah, tetapi juga mengembalikan kebiasaan berolahraga, mengenal lingkungan sekitar, serta mencintai alam. Dengan begitu, kesehatan jasmani dan rohani juga ikut diperhatikan,” ungkapnya.
Antusiasme siswa terlihat selama perjalanan maupun ketika mengamati situs peninggalan sejarah tersebut. Pengalaman belajar secara langsung diharapkan membuat materi sejarah lebih mudah dipahami dibandingkan sekadar menghafalkan informasi di dalam kelas.
Ia juga mengajak para siswa agar tidak berhenti pada kegiatan mengenal peninggalan sejarah. Lebih dari itu, generasi muda harus memiliki kepedulian untuk menjaga, melindungi, dan melestarikan situs sejarah serta kearifan lokal Ambarawa.
“Jangan sampai peninggalan sejarah yang ada di sekitar kita justru tidak dikenal oleh generasi penerus. Anak-anak harus memiliki kesadaran bahwa menjaga dan melestarikan warisan sejarah merupakan tanggung jawab bersama,” pesannya.
Pada akhirnya, menjaga sejarah bukan semata-mata tugas pemerintah, sejarawan, atau arkeolog. Sekolah, guru, siswa, keluarga, dan masyarakat memiliki tanggung jawab untuk mengenali serta ikut melestarikan warisan budaya di lingkungannya.
Noor Hayati menutup pembelajaran dengan pesan yang terus relevan bagi setiap generasi: Jasmerah, Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah.(msa)

















